"Kembali kesini nak kepangkuanku"
Seorang ibu yang memanggil-manggil anaknya, terus dan terus setiap malam. kekelamam malam itu selalu diisi dengan tangis sang ibu yang amat merindukan anaknya,dan saat itu tak kunjung kembali. Bersandar di dinding rumah bambunya, dia menunduk lesuh, hampir tiap malam, ya tiap malam.
Anaknya pergi setahun yang lalu, sewaktu umurnya masih 9 tahun, dan tepat di hari kelahirannya.
Dan malam itu, di dalam rumah yang reot berukuran 4 x 6 meter. Keheningan terpecahkan dengan isak tangis wanita tua. Terlihat tua dengan rambut yang berwarna putih, hampir tidak ada yang berwarna hitam. Wajah yang pucat dan kusut, dialiri oleh air mata yang bening da bercahaya.
Malam itu, ya, malam itu adalah malam yang seharusnya anaknya merayakan ulang tahun yang ke sepuluh. Tetapi malam itu, malam yang sangat dingin dengan angin yang silir. Seorang ibu yang sendiri dalam ruangan rumah, teringat anaknya yang telah tiada, dia sakit, sakit keras. Dan, mati.
Seorang ibu, yang menghabiskan waktunya menjadi buruh rumah tangga tidak tetap. malam itu sedih. Dia memanggil kenangan yang hanya kembali dalam angan yang menyedihkan. Matanya meneteskan air yang berpengharap, bening dan sunyi. Kalut dalam kesedihan menjadi rumah yang damai. Damai dalam jiwa namun kalut dalam kisah.
Antara hidup dan mati, baginya tidak ada bedanya. Karena hal itu adalah sama saja. Tubuh yang nyata menjadi seolah seperti jasad tak bernyawa.
No more violence
No more crime
No more militer's pressure
We want our creation self
We want our speech self
We want our ambition
Setiap jiwa berangkat dari yang putih
Seiring dengan perjalanannya
Beragam warna akan memberi jejak dan bercak
Bagaimana bercak itu akan terlihat indah?
Cahaya lentera akan menuntun manusia untuk melukisnya
Tersingkap dari yang berwarna
Akan tampak putih kembali
Seberkas cahaya yang tampak akan memberi petunjuk
Subscribe to:
Posts (Atom)