Apa yang membuat aku takut?
Mengekspresikan suatu hal yang memang nyata adanya dalam diriku
Apa yang menjadi penolak dalam diriku?
Ketakutan tentang tak tercapainya harapan pasti,
sedangkan harapan bukanlah kepastian
Kenapa isi otakku begitu sempit dan rumit?
Namun aturan sederhana mana yang mampu mengurai rasa?
Kenapa aku harus berpikir siap untuk kalah tanpa mencari jalan kemenangan?
Bukankah kemungkinan terburuk adalah akhir dari perhelatan yang sengit,
tanpa itu takkan ada resiko dan tanpa ada hasil
Jalan yang kulalui ini adalah jalan air, dan air harus terus mengalir
Jalan itu adalah jalan yang tak bermuara dan aku tahu
Jalan itu berarti aku berpikir tidak ada rintangan yang menjadi bendungan
Jalan itu mengisyaratkan impian yang bukan hasil
Jalan itu berarti kemenangan bukan milik siapa-siapa
Jalan itu menempatkan resiko adalah yang seharusnya terjadi
Jalan itu menempatkan aku jauh dari muara (impian)
Jalan itu adalah jalan nista yang memberiku impian semu
Jalan itu saat ini ambigu
Jalan itu membuat aku bertanya kembali
Ia adalah ilalang yang tumbuh di tengah ilalang-ilalang lain
Sangat takjub, sangat menawan
Satu diantara beribu jenis yang sama
Namun memberikan warna yang beda
Bukan kemilau yang menyilaukan mata
Bukan kemilau yang menenggelamkan rasa
Warna kesejukan dan warna kebersahajaan
Sejuk, karena ia adalah titik kalbu di tengah padang ilalang
Bersahaja, karena ia tetap menjadi ilalang
Berembun ketika pagi hari
Merekah sinar bertengadah matahari di siang hari
Tunduk santun tatkala menyambut senja
Sampai ketika datang sang pemuja dengan tiba-tiba di tengah rimbun ilalang
Melihat titik kalbu berayun
Membisu dalam senyum
Dan sembari berkata:
"Engkaulah puja jelita, menawarkan binar tanpa perlu menunggu"
Subscribe to:
Posts (Atom)