Kenapa...?
Lembut tanpa bimbang
Jiwa rindu-rindu malam
Itulah dirimu sayang yang aku suka
Resah
Tawa tangis bahagia pada kesendirian
Pelan-pelan berdiri kembali
Berburu hidup lewat mimpi-mimpi
Dan aku bergerak lagi
Alur hidup yang monoton, kembali disaat mata terbuka hingga tertutup. Pilihan yang mengakomodir jalur kapitalisme sebagai lahan hidup dan manusia tak akan menemukan kebebasannya.
Dunia modern, harga sebuah kesenangan sangatlah mahal. Hal itu seakan menjadi wajar, karena kebutaan individu akan ilmu dan teknologi adalah lahan subur tumbuh kembangnya kapitalisme. Meski hanya sebuah "penanda" gaya hidup (style). Manusia menjadi sangat bodoh dan terbatas untuk hidup di satu jalan, jalan yang terbatas.
Akses masuk menuju lajur jalan lain akan dibayar dengan sangat mahal. Hingga kemudian perputaran kapitalisme kehidupan pun dimulai. Mereka (manusia bodoh) terjebak pada dunia style. Style, predikat yang tak hidup namun menghidupkan, kesenangan dan hiburan, bahkan menjadi icon atau jati diri masyarakat (manusia modern).
Masuk ke jalan-jalan itu membuat otak berhenti berputar. Mata hanya melihat, telinga hanya mendengar, setelahnya manusia berperilaku seperti mesin. Menunggu perintah dan menghendaki apa maunya operator.
Jalan hidup manusia yang monoton, mesin adalah analogi yang pas. Tapi, manusia tetaplah manusia. Kebebasan akan ditemukan dengan perubahannya sendiri.
Apakah sebenarnya yang menjadi makna sebuah religiusitas manusia? Dengan menelusuri secara simbolik rutinitas keagamaan, benarkah di sana manusia akan menemukan jati diri ke-Tuhanannya? Hal yang simbolik seakan menjadi penanda khas, padahal itu hanya pertemuan semu antara manusia dengan Tuhannya. Jadi apa yang menjadi makna sebenarnya tentang religiusitas manusia? Aku pun bertanya.
Manusia dan dosa? Kebetulan yang sangat dekat, siapa yang berhak menentukan dosa? Tuhankah? Ataukah manusia pun bisa? Seonggok pertanyaan yang sempat membuatku merenung...
"Seteguk menuju ke hulu
Nyali melaju mengumbar gemuruh
Dan, sayup-sayup mulai layu
Api dan impian bertaluh
Laksana angan yang menggebu
Uap, debu dan peluh yang lelah
Menjamah jemari kurus bertulang
Riuh kecamuk tanya
Menguap berhamburan tanpa jawab
Berlari kecil tanpa malu-malu
Seraya menampik kegelisahan"
"Bunga tulip mengatup
Menutupi kegairahan manusia bertanya"
Itulah kiasan yang telah sampai pada temaram,
lalu muncul menjadi kegelisahan.
Kompleksitas bertemu, menatap jenuh dan telah lelah merenung.
Malam yang tiba-tiba didekati angin dingin, mulai menjamu kenangan.
Dan asap beriringan mengganti setiap detail sisi rindu.
Antara hari yang berjarak hanyalah sisa ruang menghimpit waktu.
Yang lelah dengan gontai berpulang menuju peraduan.
Sedang yang tergopoh-gopoh kembali menatap kebohongan.
Mencipta logika lain dengan memaksa keinginan menemukannya sendiri.
Sitir memang, berniat melepaskan penat dalam imaji, meluaskan proses kreatif hingga ujung batas, tapi rekayasa itu telah kehilangan bentuk. Penjamuan yang sia-sia terhadap keinginan sesat. hanya hadir dalam bingkai tulisan lusuh. Kata telah kehilangan nada dan nalar telah kehilangan arah, adalah konsekuensi atas waktu yang tak tepat. Dari situlah rasa kehilangan pun muncul, akhirnya larut bersama mimpi dalam dunia lain. Keliaran imaji telah kehilangan bentuk. Yang berarti setengah sadar itu hanya menghilangkan satu proses berpikir...
19 Mei 2006 - Sebuah ruang, berdua (Eko & Amroe) dalam satu sloki 40%
Hilang semua hilang
Sesal yang selalu datang
Mimpi tak indah lagi
Sunyi menghimpit diri
*Reffrain dalam lagu "Hilang" oleh Mother Hope
1
Di sela ranting-ranting
Irama angin menyapa sendu para daun
Taman pinus, awal getar hati yang menahun
Rentang jarak antara kini dan lampau
Meniti jejak untuk dilahirkan
Bukan sebagai bayi mungil dan tangis
Tapi hasrat penanda dari yang tiada menjadi ada
Dan hadir dalam rahasia-rahasia ruang yang tak nyata
Diantara simbol-simbol kelahiran
Sesuatu datang sebagai kelahiran yang lain
Sebuah takjub dan getaran mengharap
Hari ini
Rasakan itu sebagai anugerah simbol kelahiranmu
Sangat istimewa melebihi permata dari nirwana
Taman pinus, silir dan teduh
Kita belum pernah bertemu di sana
Senyum hangat, sapaan mesra setelah lelah
Meleburkan ingatan dalam ruang masa
Yang lalu dan tak pernah bertemu
Sulit terhapus
Karena itulah awal sebuah kelahiran
Kenangmu membingkai hati
Hingga kukatakan kepadamu:
"Rengkuh dan rasakan"
Hari ini
Aku datang sebagai kelahiran yang lain
Tanpa kertas pembungkus dan tali pita pink
2
Aku tahu, tiap malam kau akan memanggilku
Irama romance memandu kerinduan itu
Meski kau masih tampak malu dengan muka tersipu
Aku tahu, kau akan menceritakan sesuatu
Lewat kata-kata yang tersentuh jemarimu
Bukti hadirku ada di sela hatimu
Aku tahu, aku tak tahu apa makhsudmu
Hari ini
Aku datang kepadamu
*lady of valley in birthday - selamat ulang tahun...
Apakah kau menungguku sayang?
Pada cermin kata hampa,
berusap helai kerudung putih
Pada lorong malam merindu
Pada pagi bersama sajak cinta
Atau,
kau tak pernah menungguku?
Ketika Gibran merasuki jiwa,
lalu menemukan cinta dengan mata dan senyum,
bagaimana agar cintaku menemukan hatimu yang sendiri?
Kau tak pernah memberikan harap atas bara yang menghangat
Masa telah menidurkannya dalam beku
Sayang,
dengarlah...
aku tak mau menunggumu,
aku akan mencarimu bersama imaji dan langit awan gelap
Di sana tertunduk segala kerinduan berterbangan dan
merpati putih membawa diri yang tersiksa
Sayang,
meski kau tak menungguku,
berikanlah penanda kasih bahwa cinta itu indah
Ya..., indah sekali
Paling tidak bersamanya semua impian ditulis
Atau,
redupkanlah lentera senja yang menghampiri desah batin pemujamu,
saat itu nadir kasih kau aku dan bayang lalu akan mati
Masih ingat di negeri awan, di balik semak taman harapan? Di situ aku menunggu datangnya jiwa berselimut kasih dan menyapaku cinta. Aku menunggu untuk waktu yang terlalu lama, hingga aku sadar kau tak akan pernah datang, karena kau tak tahu, aku duduk seperti Socrates dengan tangan menopang dagu, mengharapmu.
Dalam suatu waktu perenungan kasih, di situ juga aku menambatkan peluru, hanya ada satu peluru. Jangan terkejut! Aku tidak memegang senjata, serupa Ak-47, peluruku itu tanpa senjata, namun siap membidik hatimu. Tidak melukai tapi mencintai, tidak membunuh tapi menghidupkan, merasuk ke seluruh lubang pori-pori, hingga yang terasa dalam sekujur tubuhmu adalah aku. Tapi sayang, peluru itu masih aku simpan erat-erat dalam mulutku.
Awan gelap, hujan rintik, deras, angin berat hingga langit cerah kembali, dan kupu-kupu hinggap di dahiku. Semua itu adalah masa dimana aku melewatkannya bersama rasa sembilu tanpa lesuh. Engkau masih tetap tidak tahu.
Mungkin di suatu tempat kau bertemu dengan anak kecil nan lucu bersayap, itulah cupid, yang akan menancapkan panah asmara di dadamu. Melambai-lambaikan sayap, membujukmu tuk tersenyum, karena dia begitu lucu. Kau tak perlu siaga dan waspada, cupid kecil itu tidak akan menarik tali busurnya yang berisi anak panah ke arahmu, itu sudah aku larang. Dia hanya bertugas menemanimu bermain di taman yang lain, menghiburmu menemukan kebahagiaan. Aku tidak perlu dia untuk membuat kau tahu bahwa diri ini resah dalam renungan kekasih. Kala lentera memberiku petunjuk kepadamu (karena begitu gelap jika ku datang kepadamu, hingga lebih baik aku menunggu), akan ada mulutku terbuka, dan kau tahu itu apa. Tapi entah kapan...
Kerisauan bukan disaat kau menutup rinduku, membungkam harapku dan meyakini diri untuk tidak bersamaku. Atau, kehendak untuk segera ada di Lembah Eidellewis, menikmati pesona, ditemani ketenangan menghangat dan mendengarmu meyakini diri untuk mau bersamaku. Bukan itu,bukan itu, kau ada bukan atas nama jiwa dan cintaku. Kerisauan ini menyiksa karena aku, kau dan jiwa kekasih tidak dalam satu ruang yang sama, meski di sudut waktu yang sama.
Kecamasan dalam forum labirin organisasi
Mendistorsi asa dan api ambisi
Harga mati bagi sebuah intuisi
Semua hilang dalam kebengalan persepsi
Esensi yang berongga kembali membayangi tradisi
Aku harus pergi menjadi bagian yang tersisih
Namun terbesit hati untuk tetap menjadi milisi
Kabut terdampar karam di dinding-dinding kemunafikan
Memancing emosi dengan ayat-ayat kematian
Sempat juga terperosok di persimpangan jalan
Terkadang hilang lepas entah sampai kapan
Apakah hari ini dipenuhi dengan obsesi semu?
Dan ternyata hari esok hanya menuai rasa jemu
Apakah waktu akan terus menunggu?
Sedang semangat tak lebih dari kata-kata kumuh
Sampai harus keringat ini berkarat dan melepuh
Dua kata untuk manusia lesu:
F*@k You!
Lingkaran hitam replika rasa sinis
Ternyata mengekangmu ke dalam jurang paranoid praktis
Atau hanya untuk melegalkanmu sebagai seorang oportunis?
Jangan salahkan aku menjadi egois
Jika kepicikan menelantarkanmu bak penyakit sipilis
Mata ini terbelalak, tapi khayalan meninggalkanku jauh,
kemana dan entah dimana aku tak tahu.
Ruangan ini gelap, walaupun terang oleh cahaya neon.
Tapi sungguh gelap karena aku tak mampu melihat terangnya hati dan pikir.
Terasa seperti laron yang tersesat di kelamnya malam
hanya untuk mencari pusat cahaya.
Kenistaan harus kembali terjadi tanpa harus berpikir,
karena aku hanya merasa.
Tersayat oleh sengatan imaji hendak liar,
tapi terkekang oleh ruang sempit.
Seluruh jiwa ini tunduk takluk pada sloki
yang dialiri campuran Vodka, Bintang, dan Green Sand.
Berjalan selaras dengan lamunan tanpa batas.
Refleksi yang menghanyutkan sekaligus meniadakan.
Eksistensi terlebur ke dalam bauran imaji lingkaran sunyi.
Hanya dengan kata tanpa berucap dan berdialog,
memimpin kegaduhan yang tak terselesaikan dalam kurun waktu.
Sebatang rokok di tangan kanan dan gelas kecil di tangan kiri.
Bermuara dalam harmoni keheningan.
Tak ada jenjang untuk bertanya kenapa.
Yang aku tahu, aku berjalan di atas tangga,
seteguk demi seteguk dan lingkaran nikotin mengelilingiku.