Masih ingat di negeri awan, di balik semak taman harapan? Di situ aku menunggu datangnya jiwa berselimut kasih dan menyapaku cinta. Aku menunggu untuk waktu yang terlalu lama, hingga aku sadar kau tak akan pernah datang, karena kau tak tahu, aku duduk seperti Socrates dengan tangan menopang dagu, mengharapmu.
Dalam suatu waktu perenungan kasih, di situ juga aku menambatkan peluru, hanya ada satu peluru. Jangan terkejut! Aku tidak memegang senjata, serupa Ak-47, peluruku itu tanpa senjata, namun siap membidik hatimu. Tidak melukai tapi mencintai, tidak membunuh tapi menghidupkan, merasuk ke seluruh lubang pori-pori, hingga yang terasa dalam sekujur tubuhmu adalah aku. Tapi sayang, peluru itu masih aku simpan erat-erat dalam mulutku.
Awan gelap, hujan rintik, deras, angin berat hingga langit cerah kembali, dan kupu-kupu hinggap di dahiku. Semua itu adalah masa dimana aku melewatkannya bersama rasa sembilu tanpa lesuh. Engkau masih tetap tidak tahu.
Mungkin di suatu tempat kau bertemu dengan anak kecil nan lucu bersayap, itulah cupid, yang akan menancapkan panah asmara di dadamu. Melambai-lambaikan sayap, membujukmu tuk tersenyum, karena dia begitu lucu. Kau tak perlu siaga dan waspada, cupid kecil itu tidak akan menarik tali busurnya yang berisi anak panah ke arahmu, itu sudah aku larang. Dia hanya bertugas menemanimu bermain di taman yang lain, menghiburmu menemukan kebahagiaan. Aku tidak perlu dia untuk membuat kau tahu bahwa diri ini resah dalam renungan kekasih. Kala lentera memberiku petunjuk kepadamu (karena begitu gelap jika ku datang kepadamu, hingga lebih baik aku menunggu), akan ada mulutku terbuka, dan kau tahu itu apa. Tapi entah kapan...
Kerisauan bukan disaat kau menutup rinduku, membungkam harapku dan meyakini diri untuk tidak bersamaku. Atau, kehendak untuk segera ada di Lembah Eidellewis, menikmati pesona, ditemani ketenangan menghangat dan mendengarmu meyakini diri untuk mau bersamaku. Bukan itu,bukan itu, kau ada bukan atas nama jiwa dan cintaku. Kerisauan ini menyiksa karena aku, kau dan jiwa kekasih tidak dalam satu ruang yang sama, meski di sudut waktu yang sama.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 komentar:
Post a Comment