1
Di sela ranting-ranting
Irama angin menyapa sendu para daun
Taman pinus, awal getar hati yang menahun
Rentang jarak antara kini dan lampau
Meniti jejak untuk dilahirkan
Bukan sebagai bayi mungil dan tangis
Tapi hasrat penanda dari yang tiada menjadi ada
Dan hadir dalam rahasia-rahasia ruang yang tak nyata
Diantara simbol-simbol kelahiran
Sesuatu datang sebagai kelahiran yang lain
Sebuah takjub dan getaran mengharap
Hari ini
Rasakan itu sebagai anugerah simbol kelahiranmu
Sangat istimewa melebihi permata dari nirwana
Taman pinus, silir dan teduh
Kita belum pernah bertemu di sana
Senyum hangat, sapaan mesra setelah lelah
Meleburkan ingatan dalam ruang masa
Yang lalu dan tak pernah bertemu
Sulit terhapus
Karena itulah awal sebuah kelahiran
Kenangmu membingkai hati
Hingga kukatakan kepadamu:
"Rengkuh dan rasakan"
Hari ini
Aku datang sebagai kelahiran yang lain
Tanpa kertas pembungkus dan tali pita pink
2
Aku tahu, tiap malam kau akan memanggilku
Irama romance memandu kerinduan itu
Meski kau masih tampak malu dengan muka tersipu
Aku tahu, kau akan menceritakan sesuatu
Lewat kata-kata yang tersentuh jemarimu
Bukti hadirku ada di sela hatimu
Aku tahu, aku tak tahu apa makhsudmu
Hari ini
Aku datang kepadamu
*lady of valley in birthday - selamat ulang tahun...
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
1 komentar:
Hai kawan puisimu yang terakhir ini aku lebih suka dibandingkan yang lainnya. pertama diksi-diksi yang ada telah mulai ditimbang dengan maksud imaji yang memang akan visualkan. meski ada beberapa kata yang menurutku memang kurang pas. tapi aku suka nada yang di pakai. kamu tidak berteriak lagi seperti orasi kata-kata. tapi sekarang kamu lebih menghayati proses kelahiran puisimu. berbicara kepada sunyi (ah aku iki kemeruh :)) dan satu lagi yang paling penting, amanat yang dibawa atau tidaknya yang akan diutarakan adalah maksud yang positif/ optimis tidak yang lalu2 penuh dengan depresi, ketidakberdayaan, seperti menampik yang luka itu. (ah mosok sih :) dan kamu berlari tidak sperti kuda binal yang menerjang-nerjang tapi kamu kuda yang mabuk pokoknya goyang. dan berkata " ah apa itu cinta, ah apa itu derita, tapi di lain kali kau sesal" tapi puisi yang terakhir nada seperti itu telah sirna. semoga di puisi berikutnya lebih dasyat, puisi dari catatan kehidupan yang penuh dengan penghayatan.
Post a Comment