Mulai Dari Setetes ...

"Seteguk menuju ke hulu
Nyali melaju mengumbar gemuruh
Dan, sayup-sayup mulai layu
Api dan impian bertaluh
Laksana angan yang menggebu
Uap, debu dan peluh yang lelah
Menjamah jemari kurus bertulang
Riuh kecamuk tanya
Menguap berhamburan tanpa jawab
Berlari kecil tanpa malu-malu
Seraya menampik kegelisahan"

"Bunga tulip mengatup
Menutupi kegairahan manusia bertanya"

Itulah kiasan yang telah sampai pada temaram,
lalu muncul menjadi kegelisahan.
Kompleksitas bertemu, menatap jenuh dan telah lelah merenung.
Malam yang tiba-tiba didekati angin dingin, mulai menjamu kenangan.
Dan asap beriringan mengganti setiap detail sisi rindu.
Antara hari yang berjarak hanyalah sisa ruang menghimpit waktu.

Yang lelah dengan gontai berpulang menuju peraduan.
Sedang yang tergopoh-gopoh kembali menatap kebohongan.

Mencipta logika lain dengan memaksa keinginan menemukannya sendiri.
Sitir memang, berniat melepaskan penat dalam imaji, meluaskan proses kreatif hingga ujung batas, tapi rekayasa itu telah kehilangan bentuk. Penjamuan yang sia-sia terhadap keinginan sesat. hanya hadir dalam bingkai tulisan lusuh. Kata telah kehilangan nada dan nalar telah kehilangan arah, adalah konsekuensi atas waktu yang tak tepat. Dari situlah rasa kehilangan pun muncul, akhirnya larut bersama mimpi dalam dunia lain. Keliaran imaji telah kehilangan bentuk. Yang berarti setengah sadar itu hanya menghilangkan satu proses berpikir...

19 Mei 2006 - Sebuah ruang, berdua (Eko & Amroe) dalam satu sloki 40%

0 komentar: