Hari ini aku ingin bercerita, dengarkanlah...
Tak perlu riuh karena tak lucu
Tak perlu juga tisu karena bukan sedang sendu
Diam dan simak sejenak, itu sudah membantu
Kemarin bulan lalu, seorang laki-laki datang menghampiriku
Berdiri letih di depanku
Tiba-tiba dia bertutur:
Ah.. Akhirnya aku sampai pada kegelisahan
Untuk ke sekian kalinya
Saat sepi dan sedih, selalu resah harap akan kasih?
Dan saat dia hadir, rasa sepi menjadi kerinduan?
Aku hanya menatap dan menjawab senyum
Problem yang klise bagiku
__Manusiawi, sesuatu terlihat berharga sesaat setelah menghilang
Entah rasa, waktu, kisah, hingga wujud tanpa kata
Aku pun mengumpan tanya:
Lalu, kerinduan apa hendak kau cari?
Duduk di sebelahku
Menatap senja yang semakin redup
Dan menjawab:
Aku tak tahu yang kucari
Mungkin keinginan statis yang pasti
Tak perlu realis, cukup rasa optimis
Atau aku tak mencari
Mengalir saja
Hingga kisah itu ada dengan sendirinya
Tanpa aku siap menyapa
Aku tak berharap wujud nyata
Hanya ingin senyum menatapnya
Apakah kau bicara tentang kekasih? Tanyaku
Ya..., jawabnya
Kekasih bayangan
Yang datang saat sepi
Dan mencumbu malam-malamku
... ... ...
Saat cinta hanya sekedar dusta manis
Dan rintihan hati yang menjerit semakin terdengar lirih
Harap itu pun semakin kabur untuk terus dinanti
Kemudian:
sesal
hati yang luka
Akhirnya:
tertawa geli diri sendiri
Luka perasaan itu meneteskan karma
Suatu hari, pasti...
Bukankah hidup ini adil, sayang...
Menutup mata kembali, dan waktu telah bertemu subuh
Saat yang lelap mulai beranjak, yang haus mulai membasuh
Sebentar lagi cahaya timur tersibak di ujung
Adalah batas purnama berganti nama
Bisikan suci terdengar lirih sedikit merintih
Hari itu masih pagi
Aku berdiri dengan rasa getir
Sebelah jalan yang teramat bising
Di depan rumah singgah
Tampak kau di balik jendela
Mengintip di sela selambu lusuh
Hari itu masih pagi
Aku meniti dengan kaki
Hendak mengambil sisa hatiku yang terenggut olehmu
Aku melangkah dengan rasa luka
Hendak mengambil milikku yang redam oleh nistamu
Kau tetap ada di tempat semula
Tak beranjak
Sebongkah hati yang luka
Kau biarkan merana di lorong itu
Kau tak mau hadir di depanku
Bahkan untuk mengucap pisah
Hari itu masih pagi
Yang menyapaku bukan kamu
Hari itu masih pagi
Aku pulang
Pilu sedih tak menetes air mata
Tentang hatiku yang hancur di tanganmu
Aku Benci
Kau tidak merasa apa-apa
Dan berlalu begitu saja
Kau pun pergi
Lirik lagu Slank: "That's All"
aku sudah bilang
aku mencintai kamu
aku sudah bilang
aku menyayangi kamu
terserah kamu percaya atau tidak
terserah kamu mau percaya atau tidak
aku hanya bisa
memberikan ini
aku hanya bisa
memberikan ini untukmu
terserah kamu mau terima atau tidak 2x
aku hanya bisa
aku hanya bilang
aku hanya bisa bilang
itu saja 2x
that's all
Dedicated For: Bidadari Suciku
Hidup hanya sebuah permainan
Siapa yang kalah, hanya menuai resah
Siapa yang menang, tak selalu merasa bahagia
Sayangnya, yang membuat permainan bukanlah kita...
1
Senandung sendu dalam peluh telah menyingkap selimut rinduku
Pada kisah yang menetes seperti embun
Pada malam yang berisi keheningan sekaligus keniscayaaan
Berlalu tanpa lupa menyebut makna
2
Dia datang dengan wujud yang lebih indah, elok dan menawan
Namun, seperti halnya suatu yang takjub, selalu samar dipandang mata
Hadirnya begitu jauh, meski hati berharap untuk dekat
3
Desir waktu yang pelan-pelan terseret oleh angan
Ikut membawaku menangkap rona dalam wajahnya
Sungguh anggun dan sangat ayu, tapi belum sanggup untukku meraihnya
Hanya menatap dan menatap saja
Cukup hangat saat melihatnya tersipu
Akupun tak kuat untuk menahan malu
"Siapakah dia?", tanyaku dalam hati
Datang di saat senja yang mulai berlalu
Dan hadir begitu saja dalam ruang hidupku
4
Aku memanggilnya bidadari
Penanda imajinasi keelokan kaum hawa
Memang tak nyata
Tapi hembusan nafasnya memberiku kehidupan
5
Tentang kekasih dan sepi
Akhirnya bidadari suci menyapaku
Untuk sekali waktu
6
Bidadari suci menjadi misteri
Datang dengan suara resah
Sekejap terbang pergi sekejap hadir lagi
Bidadari suci yang bebas
Tanpa ikatan hati dan rasa
Bersamanya, entah sampai berapa lama?
Aku kembali menelusuri hatiku yang beku, pikirku yang kaku, terhitung detik-detik yang terus memburu. Saat ini aku berada dalam senyap, langit agak cerah, tapi purnama sedang menyusut. Hening sekali malam ini.
Kekalutan yang berulang kali pernah ada dalam benakku, kini tak ada lagi. Bukan karena sudah terjawab, meski dengan kamus tebal ada di sisiku (karena memang tidak akan pernah dalam kamus sebuah pertanyaan yang tak pernah ada). Kalut itu hilang bersama turunnya embun yang ada di atas kepalaku saat ini. Kalut itu telah berubah menjadi stagnasi hidup. Aku seakan kehilangan masa lalu, karena aku berada di luar jalur itu. Aku tak punya rencana untuk 10 detik yang akan datang dan aku kehilangan rasa berharap. Yang terjadi adalah putaran roda motor. berputar sangat kencang, tapi tidak pergi kemana-mana.
Tanpa ruang untuk waktu, otak ini tak bisa berpikir, hening saja tidak cukup. Tubuh yang lelah tidak akan mampu untuk mengurai helai-helai benang kusut. Mata yang sayu hanya siap untuk tidur. Rentangan badan seakan posisi yang pas buatku saat ini. Tanpa banyak pikir dan mati.
Halusinasi tentang bayang-bayang jalannya hidup, sesaat datang, sesaat pergi lagi. Yang tertinggal hanya uforia. Sesalkah itu?
Aku mungkin bukan Goenawan Muhammad, yang merefleksikan imajinasi dan proses pikir melalui tulisan. Dan aku bukanlah Saut Situmorang yang melenggangkan kata-kata yang hidup melalui syair-syairnya. Aku hanya manusia yang mengikuti naluri kemana aku harus berjalan. Malam ini kata-kata inilah yang menjadi tangga ke puncak imaji kerucut.
Terbujur dengan mata sayu, khayalan diam tidak pergi kemana-mana. Satu arah yang aku tuju saat ini, yakni bayangku sendiri. Bayangku ada di dekat kelopak mataku, terlihat sangat jelas. Kesadaran yang sempurna meski sayu.
Malam ini aku tak ingin ada botol vodka yang mengguyur bayangku, itu hanya membuatnya semakin kabur. Aku harus melepaskan imaji itu sendiri tanpa ada sloki yang beralkohol. Namun nikotin dari sebatang rokok tak jadi soal. Menggantikan 10 detik yang hilang.
Bayangku yang tadi diam, sedikit demi sedikit mulai membelah hening. mengajakku untuk keluar dari ruangku saat ini, ruangan yang dingin dan beku. Arahnya menuju waktu-waktu yang lain. Aku menutup mata 10 detik, setelah terbuka ruangan itu berada pada sisi tanpa ujung, pada waktu tanpa batas. Sepertinya aku telah berada pada diriku yang lain, rungan yang lain dan waktu yang lain. Ruangan itulah yang aku ingin: KEBEBASAN.
Takut dan bingung karena terlalu lama menjadi bebas, aku mulai menutup mata untuk sekian ribu detik. Mempersiapkan kebebasan yang sempurna. Hingga yang hening menjadi ramai, yang gelap menjadi terang, setelah bertemu matahari pagi.