Seandainya Saja

Aku kembali menelusuri hatiku yang beku, pikirku yang kaku, terhitung detik-detik yang terus memburu. Saat ini aku berada dalam senyap, langit agak cerah, tapi purnama sedang menyusut. Hening sekali malam ini.

Kekalutan yang berulang kali pernah ada dalam benakku, kini tak ada lagi. Bukan karena sudah terjawab, meski dengan kamus tebal ada di sisiku (karena memang tidak akan pernah dalam kamus sebuah pertanyaan yang tak pernah ada). Kalut itu hilang bersama turunnya embun yang ada di atas kepalaku saat ini. Kalut itu telah berubah menjadi stagnasi hidup. Aku seakan kehilangan masa lalu, karena aku berada di luar jalur itu. Aku tak punya rencana untuk 10 detik yang akan datang dan aku kehilangan rasa berharap. Yang terjadi adalah putaran roda motor. berputar sangat kencang, tapi tidak pergi kemana-mana.

Tanpa ruang untuk waktu, otak ini tak bisa berpikir, hening saja tidak cukup. Tubuh yang lelah tidak akan mampu untuk mengurai helai-helai benang kusut. Mata yang sayu hanya siap untuk tidur. Rentangan badan seakan posisi yang pas buatku saat ini. Tanpa banyak pikir dan mati.

Halusinasi tentang bayang-bayang jalannya hidup, sesaat datang, sesaat pergi lagi. Yang tertinggal hanya uforia. Sesalkah itu?

Aku mungkin bukan Goenawan Muhammad, yang merefleksikan imajinasi dan proses pikir melalui tulisan. Dan aku bukanlah Saut Situmorang yang melenggangkan kata-kata yang hidup melalui syair-syairnya. Aku hanya manusia yang mengikuti naluri kemana aku harus berjalan. Malam ini kata-kata inilah yang menjadi tangga ke puncak imaji kerucut.

Terbujur dengan mata sayu, khayalan diam tidak pergi kemana-mana. Satu arah yang aku tuju saat ini, yakni bayangku sendiri. Bayangku ada di dekat kelopak mataku, terlihat sangat jelas. Kesadaran yang sempurna meski sayu.

Malam ini aku tak ingin ada botol vodka yang mengguyur bayangku, itu hanya membuatnya semakin kabur. Aku harus melepaskan imaji itu sendiri tanpa ada sloki yang beralkohol. Namun nikotin dari sebatang rokok tak jadi soal. Menggantikan 10 detik yang hilang.

Bayangku yang tadi diam, sedikit demi sedikit mulai membelah hening. mengajakku untuk keluar dari ruangku saat ini, ruangan yang dingin dan beku. Arahnya menuju waktu-waktu yang lain. Aku menutup mata 10 detik, setelah terbuka ruangan itu berada pada sisi tanpa ujung, pada waktu tanpa batas. Sepertinya aku telah berada pada diriku yang lain, rungan yang lain dan waktu yang lain. Ruangan itulah yang aku ingin: KEBEBASAN.

Takut dan bingung karena terlalu lama menjadi bebas, aku mulai menutup mata untuk sekian ribu detik. Mempersiapkan kebebasan yang sempurna. Hingga yang hening menjadi ramai, yang gelap menjadi terang, setelah bertemu matahari pagi.

1 komentar:

Anonymous said...

KEBEBASAN? tidak ada yang namanya kebebasan bagi manusia. bahkan saat kita sedang tidur. Kalo yang kamu maksud "ruang" itu adalah bunga tidur kita, maka itu sama sekali bukan kebebasan. justru itu kekangan buat kita. Mengapa? karena pada saat itu mimpilah yang berkuasa. sedangkan kita tidak bisa apa-apa. kita tidak bisa mengendalikan mimpi. apa itu yang namanya kebebasan? menurutku, kita baru bisa bilang bebas jika kita bisa melakukan apa saja tanpa rasa apa2. rasa takut, sedih, ataupun senang. tentunya dalam keadaan sadar. tapi itu semua kembali pada diri kita masing2. bagaimana kita mengartikan kebebasan itu sendiri. ok deh...cukup segini aja ocehan dari aku, terlepas dari yang namanya justifikasi. aku salut ma tulisan2mu. mengalir apa adanya. hanya kata SEMANGAT dariku untuk terus menggerakkan jari2mu dan imajimu.