Bergeliat asik dengan statement, berdiri dengan kepala tengadah ke atas. Seakan-akan paling berkuasa. Unjuk gigi dengan kuantitas walaupun hanya satu otak. Setiap sayap diserang, setiap kaki dijegal, dan kepala pun tak luput jadi sasaran. Semua dalam genggaman. Apakah seperti itu? Tidak semulus itu kawan! Geliatmu telah membangunkan jiwa yang tidur.
Jiwa ini adalah penyatuan dari segenap asa yang tidak punya peran, tetapi mempunyai perasaan. Perasaan yang sama yaitu perasaan terbungkam, perasaan dilecehkan dan perasaan ditindas. Kembali akan tampil tetapi tidak dihadapanmu, karena jika aku ada di hadapanmu tak lebih sama bajingannya dengan kamu. Aku tidak kemana-mana tetapi ada dimana-mana. Aku bisa di depanmu bisa juga di belakangmu. Semangat biru terkumpul dan cahaya di tengah kegelapan telah dinyalakan.
23:13 23 12 2004 Lentera Biru membangun jiwa kolektif yang biru.
Selama yang kucari selalu ada di sisi yang terang pasti aku akan mencarinya
Dan selama jiwa ini masih memiliki semangat untuk berjuang tentu hari esok kan menjelang
Selama nafas ini masih berhembus tentu aku akan menantang aral rintangan
Sebelum aku tersisihkan aku akan menciptakan pemberontakan terhaadap kesesatan
Jiwa ini selalu menjadi korban akan tantanganku
Tapi aku tetap rela kawan !
Karena pengorbanan jiwaku takkan sia-sia
Di sisi lain pengorbanan itu telah tercipta sedikit pengalaman dan pelajaran
Semangat ini akan terkikis jika aku mati
Tetapi semangat ini tidak akan mati selama bumi masih berotasi
Tidak kau ingat kawan !
Aku masih berdiri saat aku menuggu datangnya pagi
Dan aku tidak akan beranjak ketika aku yakin bahwa itu adalah sisi terang kehidupan.
Akan berkata lain kawan !
Jika yang ada dihadapanku adalah sesosok angkara
Tercermin dalam sebuah kegelapan yang menyesatkan
Langkahku mungkin akan berpaling
Bayangan hitam itu adalah malam yang tidak pernah bertemu pagi
Permainan akan bertambah asik ketika yang dihadapan kita adalah itu
Keringat akan keluar menandakan keseriusan kita berjalan
Otot-otot lengan akan tampak ketika kita mencoba melawan
Darah yang tertetes karena luka tidak akan menghentikan langkahku
Nafas tersengal, ah ini adalah penderitaan sementara
Karena ketika kita lolos dari permainan ini
Berbagai macam kebanggaan, kebesaran dan kehormatan
Tertempel di pundak kita
Tapi ingat kawan !
Ketika kita menyerah kita adalah pecundang
Lambang yang pantas untuk kita adalah penakut dan pengecut
Karena tidak selamanya kegagalan melahirkan keterpurukan
Namun kegagalan memberi kita satu pijakan untuk terbangMenuju cita yang terlihat mustahil
Kejayaan siang harus luntur ditelan gelapnya malam
Ketika itu senja adalah pengantar kepada peraduannya
Kembali gelap menguasai separuh dunia ini
Hanya ada satu terang ketika semua orang memandang
Ke angkasa tempat dimana rembulan menjalarkan lentera
Tidak begitu terang namun damai
Di setiap sisinya berkabut dan ditebari bintang-bintang kecil
Di sini manusia kembali menemukan kehangatannya
Di sela selimut putih
Bergumul dengan suka dan canda manis
Di tengah medan yang langsung tersentuh angin
Hangatkah?
Iya, hangat sekali
Sampai aku terlelap
Ada apa dengan gelap?
Gelap memberikan inspirasi mati atas imajinasi yang tak terbatas
Jangan dikira gelap menjadi sangat menakutkan
Tidak, tidak selamanya gelap menakutkan
Justru gelap memberikan ketenangan
Apakah harus gelap sehingga mataku tak mampu melihat?
Tidak, tidak segelap itu
Gelap yang terhindar dari cahaya cipta manusia
Gelap itu sangat hening
Dan matamu masih bisa melihat
Melihat kenistaan yang terkubur di hati butamu
Melihat kosongnya pikiran yang menghias kepalamu
Melihat dirimu sendiri yang berdiri dengan angkuh
Kenapa aku mampu melihat itu?
Sudah lupakah kau
Pada lentera rembulan yang memberikan
Penerang agar matamu melihat
Walaupun lentera menyala dengan terangnya
Ketika matamu tertutup
Akan sama saja
Jangan pernah metup mayamu yang sendu itu
Tatkala lentera dalam gelap dirimu sedang menyelimuti
Hilangkan keraguan yang mebuatmu buta
Buka lebar-lebar jalan
Dan, kuasailah jalanmu sendiri
Dalam film "Mengejar Matahari" ternyata memiliki kandungan nilai filosofis, antara lain tentang persahabatan antar insan manusia. Dan, yang lebih menarik tentang arah perjalanan kehidupan manusia. "Hari ini tidaklah dimulai pada saat kita membuka mata pada pagi hari, tetapi jauh sebelum itu". Hari ini dimulai pada saat manusia mulai menghembuskan nafas yang pertama sampai pada saat yang tak ditentukan. Hari ini mengawali hidup untuk esok hari dan esoknya lagi.
Esok hari tidak memiliki batas, batasan itu terlalu abstrak untuk dipikirkan oleh manusia. Kalau kebanyakan orang mengatakan bahwa akhir dari hidup manusia adalah pada saat mereka menghembuskan nafas yang terakhir. Jika itu memang benar, alangkah pendek umur yang dimiliki manusia di bumi ini. Dan, jika itu memang benar sungguh kasihan manusia yang hidup dalam kesengsaraan dunia. Tetapi dimanakah batasan itu?
Jika manusia yang menjawabnya sungguh itu bukan jawaban yang patut dipercaya, karena dia hanya manusia yang tidak tahu kenapa dia sampai di muka bumi ini.
Secara tiba-tiba muncul sebagai jasad yang bernafas dan mengatakan tentang kehidupannya, bukankah itu hal yang lucu?
Tidak sedikit manusia yang masih mencari dari mana mereka berasal, termasuk penulis sendiri, untuk bisa menentukan kemana dan dimana titik yang akan ditemui.
Sungguh ini berarti jasad bernafas itu ada untuk mencari jawaban dari semua pertanyaan. Dan itu dimulai pada saat udara pertama keluar melalui hidung yang mungil sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan, dan pencarian ini bukan untuk menentukan posisi manusia saat ini, tetapi untuk menentukan dimana dia nanti. Rumor manusia hidup tidak hanya untuk saat ini adalah benar adanya.
"Kembali kesini nak kepangkuanku"
Seorang ibu yang memanggil-manggil anaknya, terus dan terus setiap malam. kekelamam malam itu selalu diisi dengan tangis sang ibu yang amat merindukan anaknya,dan saat itu tak kunjung kembali. Bersandar di dinding rumah bambunya, dia menunduk lesuh, hampir tiap malam, ya tiap malam.
Anaknya pergi setahun yang lalu, sewaktu umurnya masih 9 tahun, dan tepat di hari kelahirannya.
Dan malam itu, di dalam rumah yang reot berukuran 4 x 6 meter. Keheningan terpecahkan dengan isak tangis wanita tua. Terlihat tua dengan rambut yang berwarna putih, hampir tidak ada yang berwarna hitam. Wajah yang pucat dan kusut, dialiri oleh air mata yang bening da bercahaya.
Malam itu, ya, malam itu adalah malam yang seharusnya anaknya merayakan ulang tahun yang ke sepuluh. Tetapi malam itu, malam yang sangat dingin dengan angin yang silir. Seorang ibu yang sendiri dalam ruangan rumah, teringat anaknya yang telah tiada, dia sakit, sakit keras. Dan, mati.
Seorang ibu, yang menghabiskan waktunya menjadi buruh rumah tangga tidak tetap. malam itu sedih. Dia memanggil kenangan yang hanya kembali dalam angan yang menyedihkan. Matanya meneteskan air yang berpengharap, bening dan sunyi. Kalut dalam kesedihan menjadi rumah yang damai. Damai dalam jiwa namun kalut dalam kisah.
Antara hidup dan mati, baginya tidak ada bedanya. Karena hal itu adalah sama saja. Tubuh yang nyata menjadi seolah seperti jasad tak bernyawa.
No more violence
No more crime
No more militer's pressure
We want our creation self
We want our speech self
We want our ambition
Setiap jiwa berangkat dari yang putih
Seiring dengan perjalanannya
Beragam warna akan memberi jejak dan bercak
Bagaimana bercak itu akan terlihat indah?
Cahaya lentera akan menuntun manusia untuk melukisnya
Tersingkap dari yang berwarna
Akan tampak putih kembali
Seberkas cahaya yang tampak akan memberi petunjuk