Berjalan dengan kata menghiasi imaji
Bersandar pada mimpi meratap bukan hal sedih
Hati kembali berbisik lirih
Maukah kau hadir di hati ini sebagai kekasih?
Apa yang membuat aku takut?
Mengekspresikan suatu hal yang memang nyata adanya dalam diriku
Apa yang menjadi penolak dalam diriku?
Ketakutan tentang tak tercapainya harapan pasti,
sedangkan harapan bukanlah kepastian
Kenapa isi otakku begitu sempit dan rumit?
Namun aturan sederhana mana yang mampu mengurai rasa?
Kenapa aku harus berpikir siap untuk kalah tanpa mencari jalan kemenangan?
Bukankah kemungkinan terburuk adalah akhir dari perhelatan yang sengit,
tanpa itu takkan ada resiko dan tanpa ada hasil
Jalan yang kulalui ini adalah jalan air, dan air harus terus mengalir
Jalan itu adalah jalan yang tak bermuara dan aku tahu
Jalan itu berarti aku berpikir tidak ada rintangan yang menjadi bendungan
Jalan itu mengisyaratkan impian yang bukan hasil
Jalan itu berarti kemenangan bukan milik siapa-siapa
Jalan itu menempatkan resiko adalah yang seharusnya terjadi
Jalan itu menempatkan aku jauh dari muara (impian)
Jalan itu adalah jalan nista yang memberiku impian semu
Jalan itu saat ini ambigu
Jalan itu membuat aku bertanya kembali
Apa yang membuat hidup lebih hidup?
Ketika semua energi lelah untuk mencari jawaban atas itu,
Pasti berujung pada ketidakberdayaan diri
Kemudian terlena ke dalam pengurungan diri yang sempit
Enjoy aja... , ungkapan akan kelemahan menaklukkan takut
Di saat semua mengekang ke dalam ruang kososng yang berisi kebodohan
Daun hijau yang menjadi simbol kebebasan ternyata tak sanggup menjadi teman
Yang pada akhirnya hanya menjadi senjata pembunuh sepi
Dan menghantarkan diri pada kontemplasi semu
Daun yang menghasilkan asap kebebasan itu telah merenggut ruang kebebasan sejati
Daun yang diberi nama canabis sativa itu hanya menjadi pembebas dari keinginan
Merekah indah menawarkan sejuta pesona
Tak terelakkan kau sempurna
Dalam teropong manusia hina
Kelak waktu yang menghantarkanku
Untuk bersimpuh dalam ruang yang ada benakmu
Memilih untuk berani
Walaupun harus membunuh kemaluan
Kelak yang ada didepanmu
Bukan bayangan hitam dari orang lain
Tetapi bayangan biru atas dirimu sendiri
Adalah penyatuan jiwa yang ada
Bukan atas takluk yang merendahkan
Engkau berhak atas diriku
Dan aku berhak atas dirimu
Ketika keindahan hanyalah penutup
Dari ketidak sempurnaan
Biarlah bayangan itu yang menyempurnakan
Adalah sempurna karena bayangan itu adalah penyatuan jiwa
Ketika keburukan memberikan keengganan
Biarlah bayangan itu jua yang menata
Untuk tidak ada lagi keengganan
Aku atas kamu, sesungguhnya jiwa yang berpadu
Dan bayangan itu menjadi penanda
Dari setiap jengkal bayangan yang mengikuti
Izinkan aku mencinta dengan indah
Tanpa batas yang mampu merengkuh
Rona cahaya dalam balutan sendu wajahmu
akan tetap tampak indah
Karena kau bidadariku
Yang hadir di tengah taman mawar
dan kau nampak dengan binar
Aku tunduk dalam keanggunan jiwamu
Seperti awan yang tunduk pada lentera senja
Tatkala kau datang sepintas
Lalumu menitikkan kegundahan
Harapan hanya untuk mawar yang kau rekahkan kepadaku